DPD

 

 

 

                                                             Sekilas tentang CM Care

 

                 # Apa yang dimaksud dengan CM Care?

CM Care adalah kepanjangan Congregation of the Mission Care, yakni Satuan Pelayanan PEDULI COVID 19.     

 

Berawal dari keprihatinan  semakin banyaknya korban dampak pandemi Covid 19 yang semakin meningkat secara signifikan pada gelombang ke 2 ini , dimana banyak  keluarga terdekat  telah menjadi korban, dan kehilangan orang tercinta serta pasien covid 19 yang harus isoman karena layanan di RS sudah tidak ada lagi tersedia kamar untuk pasien serta tenaga nakes yang bertumbangan , maka marilah kita ikut terlibat meringankan duka Indonesia dengan sepenuh hati.

CM Care saat ini mengajak semua pihak untuk peduli pada situasi dan kondisi pandemi Covid 19  sekarang ini, dengan melibatkan para kategorial,pengurus wilayah dan pengurus lingkungan untuk peka dan peduli membantu penderita Covid 19 .

CM Care yang sekarang diketuai oleh Romo Ign Suparno CM, beliau tinggal di GSV Prigen, beliau juga sebagai coordinator keluarga Vinsensian dan pengembangan systemic change Indonesia, mengajak bekerja sama dengan ibu-ibu Wanita Katolik RI sewilayah DPD Jatim untuk terlibat dan bergerak bersama membantu para insan yang terdampat pandemic Covid  19.

                 # Gerakan apa sajakah yang dilaksanakan oleh CM Care?.                                                      

   Fokusnya pada keluarga isolasi mandiri, tanpa pandang bulu, tidak ada perkecualian. Melibatkan juga beberapa dokter sebagai pendamping, diantaranya Dr Gani SpA.

CM Care tidak ada hubungan tugas dengan fasilitas kesehatan dari pemerintah maupun swasta, karena itu tidak menyediakan obat anti virus, melainkan hanya menyalurkan apa yang akan membantu menguatkan dan menyelamatkan keluarga,  baik yang terpapar maupun yang hidup bersama mereka: Aneka vitamin [C, D3] suplemen zink, dan obat2an, masker bedah, sarung tangan, hair cap, gaun pengaman, peralatan medis esensial yakni oxymeter, thermometer dan juga sembako.     

CM Care untuk kegiatan kemanuasiaan membantu meringankan beban saudara – saudari kita yang isolasi mandiri karena pandemi covid 19.                                                                                           

Disini ibu-ibu Wanita Katolik RI diharapkan untuk peka dan peduli dalam penanganan hal ini, baik secara materi maupun non materi. Bisa juga membentuk jaringan pertolongan nutrisi keluarga isolasi mandiri atau jaringan konsultasi dokter. 

Mari kita bersatu melawan Covid 19 dengan menjalankan protokol kesehatan yang baik. 5M,yakni : Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan menghindari bepergian dan pola hidup sehat dengan makan makanan yang bergizi, berolahraga serta cukup beristirahat setiap harinya.

Tuhan memberkati.

          

 

 

 

                                                 SEJARAH WANITA KATOLIK RI DPD JATIM

 

 

Sejarah Wanita Katolik RI

Wanita Katolik RI adalah organisasi kemasyarakatan yang dalam kiprahnya memperjuangkan harkat dan martabat manusia, dengan sifat kepemimpinannya berpedoman pada prinsip Solidaritas dan Subsidiaritas serta dilandasi oleh  sikap asih, asah dan asuh.

Berbentuk Badan Hukum, yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. J.A.5/23/8 tanggal 5 Februari 1952 dan berbentuk Ormas sesuai dengan UU RI no 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Didirikan pada tanggal 26 Juni 1924 di Yogyakarta, atas prakarsa Ibu R. Maria Soelastri Sasraningrat Darmosapoetro, adik kandung Nyi Hadjar Dewantoro dengan pastor Van Driesche, SJ karena kepedulian serta keprihatinan terhadap nasib buruh wanita yang diperlakukan tidak adil terutama dalam penerimaan upah. Pada mulanya adalah Perkumpulan Ibu-ibu Katolik Pribumi. Upaya yang telah dilakukan  yaitu pemberdayaan kualitas wanita melalui berbagai kursus antara lain menjahit, merajut , mengajarkan membaca, menulis dan lain-lain.

Wanita Katolik RI merupakan wadah dari kesatuan gerak wanita yang beriman Katolik yang terpanggil dengan sukarela dalam keanggotaannya. Organisasi ini berazazkan Pancasila, berlandaskan Ajaran Sosial Gereja dan bersifat sosial aktif. Adapun cita cita dari Wanita Katolik RI adalah :

  • Memperjuangkan tegaknya harkat dan martabat manusia
  • Mewujudkan iman dan cinta kasih melalui karya pengabdian dalam masyarakat

Pada tahun 1930, diadakan Konferensi I Perkumpulan Ibu-ibu Katolik di Yogyakarta yang menghasilkan :

  • Nama perkumpulan adalah Poesara Wanita Katolik ( PWK )
  • AD / ART bahasa Jawa
  • Dihadiri perwakilan cabang Yogyakarta, Solo, Magelang, Muntilan, Semarang, Sleman, Ganjuran dan Surabaya.
  • Pembentukan Pucuk Pimpinan Pusat yang diketuai oleh Ibu C. Hardjodiningrat.
  • Bersama KOWANI memperjuangkan hak Buruh Perempuan dan Peraturan Perkawinan
  • Membentuk Muda Wanita Katolik ( MWK) sebagai lembaga pengkaderan.

Konferensi II berikutnya di adakan di Solo tahun 1934, Poesara Wanita Katolik diubah menjadi Pangreh Ageng Wanita Katolik ( PAWK ) dan diketuai oleh Ibu Th. Siswosoebroto.

Pada tahun 1936, Ibu Kwari Sosrosumarto menghadiri Kongres Wanita Katolik sedunia di Brussel, misinya untuk menjajaki kemungkinan PAWK menjadi anggota WUCWO ( World Union Catholic Women’s Organization ). Karena adanya Perang Dunia, maka Wanita Katolik RI baru diterima resmi sebagai anggota WUCWO pada tahun 1957.

Konferensi III diadakan di Yogyakarta pada tahun 1937, yang menghasilkan :

  • Nama Pangreh Ageng Wanita Katholiek berganti menjadi Pakempalan Wanita Katholiek.
  • Tujuan Perkumpulan Wanita Katolik adalah :
  • Memajukan para wanita pribumi terutama para anggotanya, meliputi kerohanian dan kejasmanian dengan dasar katolik dan mengikuti gerakan aksi Katolik.
  • Perkumpulan ini tidak berkaitan dengan masalah politik.
  • Rencana menggiatkan pembentukan Cabang di luar Jawa

Pada Konferensi ke IV di Muntilan tahun 1938,  diadakan pameran hasil kerajinan tangan para anggotanya dan pada tahun ini diterbitkan media komunikasi bernama “ Serat Iberan “ sebagai media komunikasi antar anggota perkumpulan yang sudah meluas, berisi kegiatan yang mereka lakukan.

Konferensi V di Muntilan pada tahun 1940, adalah konferensi yang terakhir di masa penjajahan Belanda. Pada saat Jepang menduduki Indonesia, hanya dikehendaki satu saja organisasi perempuan yaitu Fujinkai, maka diputuskan untuk mengakhiri nama Perkumpulan Wanita Katolik. Namun secara perorangan anggota Perkumpulan Wanita Katolik tetap aktif  menjalankan karya pelayanan dalam masyarakat salah satunya dalam kegiatan Maria Kongregasi.

Pada tahun 1945, dalam revolusi fisik, wanita-wanita katolik turun dalam masyarakat untuk membantu di garis belakang, serta memberikan penerangan tentang Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Pada Desember 1948, atas anjuran Mgr. Soegijopranoto, SJ, mulailah dibangkitkan kembali Organisasi Wanita Katolik yang bersifat sosial dan dalam Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia ( KUKSI ) pada tanggal 7-12 Desember 1949, ide pendirian Wanita Katolik dilancarkan pula, yang di bawa pulang oleh utusan-utusan.

Pada tahun 1950 diadakan konferensi di Yogyakarta, dimana di bentuk Pengurus Pusat yang di ketuai oleh Ibu Kwari Sosrosoemarto.

Tahun 1951 diadakan konferensi di Semarang, yang diantaranya membahas AD-ART yang disahkan oleh Mgr. Soegijopranoto, SJ. Dan selanjutnya melalui Kongres I tahun 1952 ditetapkan beberapa hal yang mendasar yaitu :

  • Menyempurnakan AD/ART dalam Bahasa Indonesia
  • Menetapkan Santa Anna sebagai Santa pelindung.
  • Menetapkan keseragaman lambang.
  • Mendapatkan status Badan Hukum dari Departemen Kehakiman dengan nomer : J.A.5/23/8 tanggal 5 Februari 1952. Status Badan Hukum ini berlaku di seluruh Wanita Katolik di Indonesia.

Tahun 1954 : Kongres II di Jakarta. Menghasilkan penegasan bahwa asas organisasi Wanita Katolik adalah Agama Katolik dan tidak berpolitik. Dikuatkan dengan pernyataan sikap tidak mendukung Partai manapun dalam Pemilu 1955. Kongres dihadiri 42 Cabang dari 48 Cabang yang sudah berdiri. Delegasi dari luar Jawa yang hadir yaitu Den Pasar, Singaraja dan Menado.

Tahun 1956 : Kongres III di Malang, diputuskan untuk mendirikan Yayasan Salib Kuning dengan fokus perhatian pada pendidikan para remaja putri ( Sekolah Kepandaian Putri disebut SKP ), serta memperluas karya-karya sosial dengan pelaksana di tingkat cabang-cabang seluruh Indonesia.

Tahun 1959     : Kongres IV di Yogyakarta

Tahun 1964 : Kongres V di Surabaya, hasilnya mencantumkan Pancasila dalam Anggaran Dasar.

Kongres VII di Semarang tahun 1965, meresmikan berdirinya Yayasan Dharma Ibu         (YDI) berdasarkan akte notaries tanggal 12 Agustus 1965. Penanganan masalah pendidikan dan kesehatan mendapatkan perhatian khusus dengan pembentukan yayasan diberbagai tempat.

Kongres IX tahun 1970 di Jakarta, diputuskan untuk menyeragamkan semua lembaga pendidikan di bawah yayasan yang didirikan Wanita Katolik RI bernama Indriyasana yang berarti sasana/tempat pendidikan untuk melatih, mendisiplinkan kemampuan indra dan tindakan.

Dalam Kongres XIII pada tahun 1984 di Surabaya, Wanita Katolik RI mencantumkan asas solidaritas dan subsidiaritas dalam AD-ART sebagai semangat pengembangan organisasi. Di dalam kongres XIII juga ditegaskan kembali bahwa seluruh yayasan yang didirikan Wanita Katolik RI menggunakan nama Yayasan Dharma Ibu (YDI) demi keseragaman dan kebersatuan.

 Pada tahun 1985, dalam Anggaran Dasar hasil Kongres XIII , menyatakan bahwa Wanita Katolik RI berazaskan Pancasila sebagai dasar organisasi yang rumusannya tercantum dalam UUD 1945. Hal ini untuk memenuhi Undang-undang no. 8 tahun 1985.

Kongres XIV dilangsungkan di Jakarta, fokus perhatian pada peningkatan kualitas organisasi untuk meningkatkan karya pelayanan menuju kehidupan masyarakat yang adil dan makmur yang merata material dan spiritual.

Kongres XV diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1993, mengesahkan AD-ART tahun 1993 yang dicatatkan kembali sebagai perubahan Anggaran Dasar yang telah dicatatkan pada tahun 1952 dan menjadi Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor : C2-7095 HT.01.06 Th 96.

Di forum internasional, kehadiran Wanita Katolik RI dalam forum WUCWO sangat diakui. Pada tahun 1979-1982 Sri Sudito mendapat kepercayaan sebagai Vice President untuk region Asia Pasifik dan pada tahun 1982 Wanita Katolik RI memperoleh kepercayaan menyelenggarakan Regional Meeting Asia Pasifik di Jakarta. Pada tahun 1987-1995 ( dua periode )  ibu Bernadine Wiryana sebagai Ketua Komisi Lingkungan Hidup dalam WUCWO dan pada tahun 1995-1998 dijabat oleh Mei Susilo.

Pada tanggal 18-21 Februari 1999 diselenggarakan Kongres XVI yang merupakan Kongres Luar Biasa di Caringin, Bogor, Jawa Barat dengan tema “ Iman Kepada Tuhan Yang Maha Esa Sumber Kekuatan Membangun Masyarakat Yang Penuh Harapan Dan Kasih “.  Karena adanya krisis ekonomi yang melanda negara-negara Asia dan situasi politik dalam negeri tidak menentu, demonstrasi mahasiswa besar- besaran dan pergantian Presiden pada tahun 1998, berdampak pada mundurnya penyelenggaraan Kongres, sehingga dalam keadaan darurat, Kongres XVI diselenggarakan dengan Keputusan Kongres Luar Biasa KEP-1/KLB/II/1999 Butir 1 : AD-ART hasil Kongres XV 1993 menetapkan AD-ART tahun 1993 tetap berlaku.

Kongres XVIII tahun 2008 menghasilkan keputusan Nomor KEP VII/Kongres XVIII/2008 tentang Hubungan dan Keterkaitan Wanita Katolik RI dengan Yayasan Dharma Ibu. Diperlukan kesepahaman tentang kedudukan kedua belah pihak secara hukum dan kedudukan didalam menjalankan tugas perutusan.

Kongres XIX tahun 2013 kembali diterbitkan keputusan tentang hubungan dan keterkaitan Wanita Katolik RI dengan Yayasan Dharma Ibu. Dan dalam AD-ART 2013 tentang Yayasan tercantum dalam bab tersendiri. Di dalam AD-ART tahun 2013 juga disebutkan tentang penghayatan dan penerapan nilai-nilai Ajaran Gereja dalam organisasi Wanita Katolik RI.

Cukup banyak perubahan terjadi selama kurun waktu 2008-2013, baik di dalam organisasi ( internal ) maupun di luar organisasi ( eksternal ). Muncul paradigma bahwa organisasi Wanita Katolik RI adalah suatu komunitas yang berorganisasi. Tingkat Ranting yang diartikan sebagai komunitas basis menjadi fokus pemberdayaan. Tema perjuangan mengedepankan kualitas hidup dan kehidupan dengan menekankan pada upaya pengentasan kemiskinan dan menepis kekerasan. Pada era tahun 2000 di rasa perlu melakukan reorientasi dan transformasi pola gerak organisasi Wanita Katolik RI untuk menghadapi tantangan dalam menunjukkan keunggulannya dalam berkiprah di tengah masyarakat.

Saat ini di setiap Keuskupan tumbuh dan berkembang Wanita Katolik RI yang berjuang  melayani dan menjawab kebutuhan Gereja dan masyarakat sesuai garis kebijakan bersama dalam kongres-kongres yang di selenggarakan , semua ini tidak terlepas dari pengabdian para perintis dan semua yang tanpa pamrih memberikan dirinya untuk mewujudkan cita-cita organisasi.

Sejarah Wanita Katolik RI DPD Jatim

Riwayat singkat dibagi atas 4 bagian  :

  1. Zaman penjajahan Belanda dari tahun 1930 – 1942
  2. Zaman penjajahan Jepang dari tahun 1942 – 1945
  3. Zaman perang fisik dan penduduk Belanda tahun 1945 – 1950
  4. Zaman Pemerintah Republik Indonesia dari tahun 1945 – sekarang

Atas perkenan dan doa restu Mgr.De Backere CM Apostolik Vikaris Surabaya, maka pada tanggal 15 Agustus 1930 lahirlah Perkumpulan Wanita Katolik Cabang Surabaya yang di ketuai Ibu Gabriel wartinah, salah seorang guru HIS  susteran Kepanjen Surabaya.

Jumlah anggota saat itu ada 50 orang tersebar di Kota Surabaya. Tujuan utama ialah meningkatkan kehidupan para wanita pada umumnya dan Wanita katolik pada khususnya. Kegiatannya antara lain:

  1. Mengadakan kursus pemberantasan buta huruf
  2. Kursus masak memasak, jahit menjahit
  3. Pelajaran Agama Katolik
  4. Kunjungan seminggu sekali kerumah para anggota
  5. Pelajaran Bahasa Belanda
  6. Kesenian tari Jawa

Pada waktu itu Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa daerah/ jawa.

Ketua didampingi Moderator Rm.C.Sechoemaker,CM dan para pengurus lainnya, pada tahun 1933 Romo Moderator pindah keluar kota sebagai gantinya Rm.Peterse.CM.

Tahun 1935

  • Wanita Katolik memperingati hari ulang tahun ke- 5, dengan mengadakan Fancy-Fair, bertempat di Marine Tesois (sekarang Stella Maris) dan memperkenalkan tari Serimpi yang masih asing bagi penduduk Surabaya.
  • Mendirikan Maria Konggergasi dengan bahasa Jawa. Dipimpin oleh Romo F.Peterse CM Profect pertama adalah Ibu Gabriel Wartinah.
  • Mengadakan Retret yang pertama kali oleh Romo Mgr.A.Soegijopranoto SJ dari Yogya, diikuti 50 orang ibu.

 

Tahun 1937 – 1940 

  • Beberapa ibu pengurus Wanita Katolik pindah tempat/ keluar kota karena membangun rumah tangga. Tenaga muda terpaksa muncul memegang kepengurusan.

Ibu Agnes Suraksi sebagai ketua dibantu oleh beberapa ibu lainnya. Kegiatan ditingkatkan dan ditambah dengan DPK karena pada waktu itu memang sangat dipelukan berhubung dengan situasi pada waktu itu.

Pada waktu itu di Surabaya dirasakan keadaan mulai gawat, maka banyak keluarga yang meninggalkan Surabaya, sehingga bagi Wanita Katolik agak repot mengurusnya

 

Tahun 1941 – 1942 

  • Wanita Katolik diketuai oleh Ibu Veronika dibantu oleh para pengurus yang masih tinggal di Surabaya, Moderator tetap Romo F Peterse CM.
  • Mengadakan dasa warsa yang pertama dengan sederhana dan Misa Suci. Pertemuan diadakan di Kepanjeng 10, dihadiri oleh Romo  E.Van Mensvcort CM yang sangat memperhatikan Wanita Katolik
  • Tahun 1942 keadaan tidak memungkinkan untuk mengadakan kegiatan organisasi karena keadaan  perang yang ada hanya semangat

 

Tahun 1942 – 1945 

Tepatnya tanggal 8 Maret 1942 Jepang datang di Surabaya keadaan menjadi berubah sama sekali, tidak di perkenakan berkumpul – kumpul lebih dari 5 orang. Wanita Katolik seakan – akan lumpuh tidak dapat menjalankan tugasnya sama sekali. Setelah beberapa lama  mendapat tenaga muda yang aktif (ibu Altaningsih). Dengan ibu ini kami dapat mengadakan hubungan dengan para anggota dengan cara mengunjungi dari rumah ke rumah keluarga Katolik yang ada di Kota Surabaya.

Romo Belanda diinternir, yang di Surabaya hanya 2 orang Romo untuk seluruh Keuskupan Surabaya yaitu Romo Dwidjosusanto dan Romo H.J.Padmoseputro yang keduanya sangat sibuk mengurusi umat Katolik seluruh Keuskupan, oleh karena itu kunjungan kami amat diperlukan oleh keluarga –keluarga Katolik.

Tahun 1945

  • Setelah Jepang menyerah, Kemerdekaan Indonesia berkumandang di seluruh Nusantara, semangat timbul kembali. Harapan untuk bangkitnya Wanaita Katolik kembali bernyala-nyala. Anggota Wanita Katolik yang tinggal beberapa bersama-sama dengan bapak-bapak berbaur turut berjuang dimanapun tenaga diperlukan : dapur umum dan PMI.

 

  • Mulai tanggal 10 Nopember 1945 Wanita Katolik betul-betul tidak berdaya, karena anggota tidak ada, yang masih tinggal di Surabaya hanya dapat membantu para pejuang bangsa secara perorangan.

 

Tahun 1950 

  • Sesudah Pemerintah Republik berkuasa kembali, maka banyaklah keluarga Katolik yang kembali lagi ke Surabaya, maka Wanita Katolik bangkit kembali  diketuai Ibu G.Soedijono dibantu oleh para pengurus lainnya, Anggotanya lebih kurang 100 orang terdiri dari beberapa Ranting-ranting, bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia, agar semua dapat memahami maksud dan tujuan Wanita Katolik.
  • Nama Wanita Katolik ditambah dengan Republik Indonesia. Wanita Katolik RI di kota Surabaya ada 5 Ranting yaitu : Ranting Kepanjen, Ketabang, Tanjung Perak, Darmo dan Sawahan.
  • Dalam Kongres di Yogja tahun 1948 menetapkan bahwa bahasa yang di pakai sekarang adalah bahas Indonesia, karena Wanita Katolik meliputi seluruh Indonesia.
  • Kegiatan :
  • Mengkoordinir kegiatan yang sudah ada
  • Melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan (membantu para korban bencana alam dan para keluarga yang kurang mampu)
  • Memberi penjelasan mengenai hal-hal yang baru

 

Tahun 1952 

  • Pergantian pengurus diketuai oleh Ibu Koesno, didampingi oleh Romo A.Bastiaensen CM sebagai moderator dan para pengurus lainnya. Kegiatan : dipusatkan kepada pengertian  arti Merdeka, karena banyak dari anggota yang masih belum paham mengenai hal itu tentang kemerdekaan Negara kita.
  • Mengikuti dan menghadiri undangan perayaan hari Nasional
  • Mengunjungi  dan memberi hiburan kepada narapidana pada hari Natal dan membawa bingkisan.
  • Mengunjungi para usia wreda/ anak yatim-piatu/ rumah sakit pada hari-hari Kartini, hari Ibu dan hari 17 Agustus
  • Ranting Tanjung Perak telah dirintis mendirikan Rumah Bersalin “ Panti Nirmala “ atas prakarsa Ibu C.Wigyanto demikian juga  Taman Kanak-kanak yang diasuh oleh  Ibu Zina.. Taman Kanak-kanak bernama “TK Indriyasana I” proyek tersebut berjalan dengan lancar sekali dan mendapat sambutan baik dari daerah sekitarnya.

 

Tahun1954

  • Pergantian pengurus, terpilih  sebagai ketua Ibu V.M.Welerubun didampingi oleh Romo Moderator Romo P.A.Bastiaensen CM dilanjutkan oleh Romo H.Windrich CM
  • Anggota tiap-tiap ranting telah lebih dari 50 orang. Kepanjen : 100, Ketabang: 75, Perak : 50, Sawahan : 50 sedangkan Darmo telah ada 100, disamping itu telah mempunyai anak ranting di Wonokromo dan Ngagel yang anggotanya ada 50 orang.
  • Kegiatan : disamping kegiatan yang telah ada, Wanita Katolik RI berusaha mendapatkan beras dari BULOG, karena pada waktu itu beras sangat mahal. Kita mendapat 10 (sepuluh) ton beras setiap bulan, lalu dijual kepada para anggota di seluruh ranting-ranting dengan harga murah, setelah harga beras murah Wanita Katolik tidak mengambil beras lagi.

 

Tahun 1959 

  • Kongres IV di Jogja Memutuskan bahwa ditiap Paroki dapat didirikan Cabang Wanita Katolik RI asal anggotanya minimum ada 15 orang, oleh karena itu sesudah Kongres, maka di Surabaya ada 7 Cabang :
  1. Cabang Kepanjen
  2. Cabang Tanjung Perak
  3. Cabang Ketabang
  4. Cabang Darmo
  5. Cabang Wonokromo
  6. Cabang Ngagel
  7. Cabang Sawahan

Demikian juga di Madiun, Ponorogo, Ngawi, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Wlingi, Mojokerto, Sidoarjo, Cepu, Bojonegoro, Rembang, Lasem, keseluruhan keuskupan Surabaya ada 30 Cabang Wanita Katolik. 

Cabang-cabang itu diasuh oleh Komisaris Daerah Jawa Timur Keuskupan Surabaya yang ditunjuk oleh Pengurus Pusat ialah Ibu G.Soedijono.

  • Cabang-cabang di Kota Madya Surabaya, dikoordinir oleh Koordinatoris yang dijabat oleh salah seorang Ketua Cabang yang dipilih oleh Cabang sekota Madya selama 3 tahun.

 

Tahun 1960 

  • Surabaya menerima/ ketempatan Kongres Wanita Katolik RI X bertempat di susteran Kepanjen. Terjalin kekompakan dalam melaksanakan tugas, sehingga Kongres dapat berjalan dengan lancar dan memuaskan

 

Tahun 1965 

  • Tahun 1965 Kongres VII di Semarang memutuskan bahwa Komisariat Daerah ( Komda) diganti menjadi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang dipilih oleh Cabang-cabang dalam Konferensi Daerah dan  bentuk  kepemimpinan yang semula Ketua diubah menjadi Presidium, yaitu puncuk pimpinan organisasi yang terdiri dari 3 ( tiga ) orang, Ketua Presidium, Anggota Presidium I dan Anggota Presidium II.

Presidium diberlakukan pada tingkat Pusat dan Daerah

Ketua dan Wakil Ketua diberlakukan pada tingkat Cabang dan Ranting.

Penamaan Badan Pengurus sebagai berikut :

Tingkat Pusat dinamakan Dewan Pimpinan Pusat

Tingkat Daerah dinamakan Dewan Pimpinan Daerah

Tingkat Cabang dinamakan  Pengurus Cabang

Tingkat Ranting dinamakan Pengurus Ranting

  • Yayasan Dharma Ibu (YDI) didirikan pada tanggal 21 April 1965 dan disahkan dengan Akte Pendirian oleh Notaris pada tanggal 12 Agustus 1965.
  • Terpilih sebagai Ketua Presidium DPD pertama Ibu Anna Asmanoe meliputi Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang. Staf DPD di Malang ialah Ibu Soekarno, Staf di Surabaya Ibu Th. Soedono, Sekretaris Ibu M.Soeprapto.

 

Tahun 1968 

Wanita Katolik mengadakan Konferensi Daerah ke II bertempat di Susteran Kepanjen

Dihadiri Cabang-cabang dari Keuskupan Malang dan Surabaya.

Acara pokok : untuk menentukan pakaian seragam WK yang telah diputuskan dalam Kongres.

Sebagai contoh yang dibawakan dari utusan Malang diterima oleh Konferensi dan akan dibawa dan diusulkan ke Kongres nanti/ yang akan datang

Pilihan Presidium DPD :

Terpilih sebagai Ketua Presidium                   : Ibu VM.Welerubun dari Surabaya

                           Anggota Presidium              : Ibu Moelyono Hadi dari Malang

                           Anggota Presidium              : Ibu M.V.Chandrajaya dari Surabaya

Kegiatan : 

  • Membimbing Cabang-cabang dalam melaksanakan tugasnya
  • Bekerja sama dengan organisasi Wanita lainnya
  • Menjadi anggota BKOW tingkat I Jawa Timur dan duduk dalam kepengurusan
  • Membantu melaksanakan program Pemerintah

 

Tahun 1970 -  2013

  • Tahun 1970 Kongres IX di Jakarta  diikuti oleh DPD dan Cabang-cabangnya, berhubung sulitnya komunikasi DPD dengan Cabang yang di pelosok, maka diputuskan DPD tidak lagi mengikuti hirarki Pemerintah, melainkan menurut hirarki Keuskupan. Oleh karena itu, sejak tahun 1970 DPD Jawa Timur pisah dengan Malang.
  • DPD keuskupan Surabaya berhak memakai nama Jawa Timur, karena tempatnya di Ibukota Propinsi.
  • Kegiatan keluar ditrambah dengan adanya organisasi baru Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) tingkat I jawa Timur, Wanita Katolik menjadi anggota dan selalu duduk dalam kepengurusan.
  • Taman Kanak-Kanak Wanita Katolik di kota Surabaya :
  1. Cabang  Tanjungperak mempunyai TK “Indriyasana dan Rumah Bersalin”
  2. Cabang Kepanjen TK “Indriyasana” tahun 1980 telah mempunyai gedung sendiri
  3. Cabang Ketabang TK”Indriyasana” dan Klinik Bersalin, gedung akan dibangun masih dalam persiapan
  4. Cabang Sawahan TK ”Indriyasana”, tahun 1983 sudah sampai kelas V, gedung masih dalam pembangunan, sekarang masih bertempat di halaman Pastoran Widodaren
  5. Cabang Darmo mempunyai TK dan SMP “Indriyasana” maju dan dapat penghargaan dari Pemerintah. SMP sore, tahun  1983 menjadi sekolah Teladan di Kecamatan Krangpilang . Guru dan Murid juara II di Kecamatan tersebut. Dikelola oleh Yayasan Dharma Bhakti Ibu-ibu yang dalam waktu singkat akan diganti Yayasan Dharma Ibu (YDI) disesuaikan dengan putusan Raker di Yogja bulan April 1983
  • Sejak tahun 1975 Wanita Katolik duduk dalam BKS Wanita Kristen Kotamadya Surabaya.
  • Konferensi Daerah ke VI tahun 1979 memilih Ketua Presidium. Yang terpilih Ibu VM.Welerubun, tetapi tidak lama mengundurkan diri. Pimpinan DPD diserahkan pada Ibu E.Larope, memimpin dalam periode 1975 – 1979
  • Periode 1979 – 1982 dipegang oleh Ibu Th.Soedono, Moderator Romo A.J.Dibyokaryono PC
  • Cabang-cabang tetap berkembang kegiatannya, hanya jumlah anggota yang agak menurun terutama di pelosok-pelosok, karena banyak yang takut, sehubungan dengan profesi suami
  • Kongres di Bandung tahun 1981 memutuskan bahwa Kongres yang akan datang (1984) akan diadakan di Surabaya.oleh karena DPD sudah membentuk panitia Kongres diketuai oleh Ibu Drs.J.Soejadi dibantu seksi-seksi. Seksi usaha sudah giat mencari dana. Demikian juga Cabang di kotamadya semua berusaha agar Kongres yang akan datang dapat berjalan lancar dan sukses.
  • DPD pada bulan Juli 1983 mengadakan penataran organisasi bagi Cabang-cabang di dalam kota Surabaya
  • DPD Jatim mengikuti penataran yang diadakan oleh DPP Wanita Katolik di Yogja pada bulan April 1983 mengenai proyek Wanita Katolik yang harus bernaung dalam Yayasan Dharma Ibu sesuai keputusan Kongres di bandung tahun 1981.
  • Penataran tentang organisasi pada bulan Juni 1983. Kegiatan lainnya yaitu turut duduk dalam Delsos yang dipimpin oleh Romo Steen CM juga duduk dalam kepengurusan Sub Regio Surabaya
  • DPD Wanita Katolik pernah diikut sertakan dalam KUKSI di Semarang dan di Klender tahun 1972.
  • Kongres XVII di Jakarta, AD-ART tahun 2004 :
  • Dalam kaitan dengan pemahaman Wanita Katolik RI sebagai komunitas yang berorganisasi, membawa perubahan pada sebutan pimpinan yaitu : Koordinator Presidium, Anggota Presidium I, Anggota Presidium II
  • Pada tingkat Cabang dan Ranting. tetap terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua
  • Badan Pengurus menjadi :
  • Dewan Pengurus Pusat
  • Dewan Pengurus Daerah
  • Dewan Pengurus Cabang
  • Dewan Pengurus Ranting
  • Kongres XIX tahun 2013, pada Sidang Komisi AD-ART diputuskan ada perubahan pada sebutan Pimpinan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah. Koordinator Presidium diganti menjadi Ketua Presidium

 

Kepemimpinan dari tahun ke tahun :

 

  • Tahun 1930 – 1936 : Ketua                            : Ibu Gabriel Wartinah
  • Tahun 1936 – 1939 : Ketua                            : Ibu Agnes Suraksi Dirdjodipura
  • Tahun 1939 – 1942 : Ketua                            : Ibu Veronica Moedjinah
  • Tahun 1950 – 1952 : Ketua                            : Ibu G.Soedijono menghidupkan kembali

                                                                                WK Surabaya pada zaman kemerdekaan 

  • Tahun 1952 – 1954 : Ketua                            : Ibu Koesno
  • Tahun 1954 – 1958 : Ketua                            : Ibu V.M Welerubun sesudah Kongres

                                                                         Di Yogja ranting WK Surabaya berganti

                                                                         Status menjadi Cabang dibawah 

                                                                         Komisariat

  • Tahun 1958 – 1965 : Ketua                            : Ibu G.Soediono ditunjuk menjadi

                                                                         Komisaris Jawa Timur

  • Tahun 1965                                                     : Komisariat diganti menjadi DPD
  • Tahun 1965 – 1968 : Ketua Presidium           : Ibu Anna Asmanoe
  • Tahun 1968 – 1975 : Ketua Presidium           : Ibu V.M.Welerumbun
  • Tahun 1975 – 1979 : Ketua Presidium           : Ibu E.Larope
  • Tahun 1979 – 1982 : Ketua Presidium           : Ibu Threes Soedono
  • Tahun 1982 – 1986 : Ketua Presidium           : Ibu V.M.Welerumbun
  • Tahun 1986 – 1990 : Ketua Presidium           : Ibu Soejono

         Anggota Presidium I     : Ibu E.Larope

         Anggota Presidium II   : Ibu Christine Soeharjono

  • Tahun 1990 – 1995 : Ketua Presidium           : Ibu E.Larope

         Anggota Presidium I     : Ibu J.F.Bilbo

         Anggota Presidium II   : Ibu A.Dengah Torar

  • Tahun 1995 – 2000 : Ketua Presidium           : Ibu J.F.Bilbo

         Anggota Presidium I     : Ibu A.Dengah Torar 

         Anggota Presidium II   : Ibu W.Candrajaya

  • Tahun 2000 – 2005 : Koordinator Presidium : Ibu A.Dengah Torar

         Anggota Presidium I     : Ibu Vc. Dwi H. Nugroho

         Anggota Presidium II   : Ibu Christine Soeharjono

  • Tahun 2005 – 2010 : Koordinator Presidium : Ibu Vc. Dwi H. Nugroho

         Anggota Presidium I     : Ibu P.M.Sudarnami Bambang P

         Anggota Presidium II   : Ibu F.X Sueztiningsih Budi Setiawan

  • Tahun 2010 – 2015 : Koordinator Presidium : Ibu P.M.Sudarnami Bambang Prabowo

         Anggota Presidium I     : Ibu F.X. Sueztiningsih Budi Setiawan

         Anggota Presidium II   : Ibu  Nany Hartono 

  • Tahun 2015 – 2020 : Ketua Presidium           : Ibu Maria Ety Mariana

            Anggota Presidium I     : Ibu Ruth Inge Herawati

            Anggota Presidium II   : Ibu Agnes Windu Rintowati

  • Tahun 2020 – 2025 : Ketua Presidium           : Ibu Maria Ety Mariana

           Anggota Presidium I    : Ibu Ruth Inge Herawati

          Anggota Presidium II  : Ibu L. Restu Widyastuti

 

Perkembangan Cabang

  • Sampai dengan tahun 2001,  Wanita Katolik RI DPD Jatim telah memiliki 36 Cabang.
  • Pada tahun 2005 berkembang menjadi 38 Cabang, dengan catatan Cabang Randublatung sesuai ketentuan AD-ART dilikuidasi menjadi Ranting dari DPC St. Willibordus Cepu.
  • Tahun 2010, menjadi 39 Cabang, tambahan DPC Roh Kudus pemekaran dari DPC Gembala Yang Baik Surabaya.
  • Sampai dengan tahun 2015, jumlah cabang 39.  Dengan catatan Cabang Ngrabe dilikuidasi menjadi Ranting dari DPC St.Yosef Ngawi dan bertambahnya DPC Ratu Pencinta Damai pemekaran dari DPC Kristus Raja Surabaya.
  • Tahun 2015-2020 seiring dengan pemekaran Paroki, jumlah Cabang menjadi 43. Tambahannya adalah :  DPC St. Stevanus Surabaya, DPC St. Aloysius Gonzaga Surabaya, DPC St. Hilarius Klepu pemekaran dari DPC St.maria Ponorogo dan DPC St. Fransiskus Asisi Resapombo pemekaran dari DPC St,Petrus dan Paulus Wlingi.

Kegiatan

  • Kedalam Organisasi
  • Kegiatan kedalam organisasi lebih diutamakan kaderisasi dan meningkatkan kwalitas Sumber Daya Manusia ( SDM ).
  • Pembekalan pengurus dan anggota agar mampu memanfaatkan perkembangan Informasi Teknologi ( IT ).
  • Melaksanakan pendampingan ke DPC terutama dalam pelaksanaan Konfercab agar sesuai dengan ketentuan Pedoman Rapat Paripurna.
  • Mengupayakan Kartu Tanda Anggota ( KTA ) bagi anggota.
  • Keluar Organisasi
  • Bermitra dengan  : anggota Komisi Kategorial, Organisasi – organisasi kemasyarakatan, Lembaga Pemerintah ditingkat daerah maupun di tingkat Provinsi.
  • Yayasan

Yayasan Dharma Ibu ( YDI )

Yayasan Dharma Ibu di wilayah Wanita Katolik RI DPD Jawa Timur ada 8 ( delapan ).

YDI semua milik cabang antara lain :

  1. YDI “ St. Mikael “ Perak Surabaya, Jl. Tanjung Sadari No. 47 Surabaya. Telp. : 031-3540830. Kegiatan yang di kelola :
  • TK Indriyasana I
  • Rumah Bersalin “ Panti Nirmala “

Poli Umum, gigi, KIA dan penitipan anak.

  1. YDI “Kristus Raja” Surabaya. Jl. Bronggalan Sawah VA/34 Surabaya. Alamat Sekretariat : Jl. Candi Sari No. 2A Surabaya. Kegiatan yang dikelola :
  • Balai pengobatan” St. Anna”

Poli Umum, gigi dan KIA

  1. YDI “ St. Vincentius A Paulo” Sawahan Surabaya. Jl. Petemon Kali 114 Surabaya. Alamat Sekretariat : Jl. Petemon II/81 C Surabaya. Telp. : 031-5351017. Kegiatan yang dikelola :
  • TK Indriyasana IV
  • SD Indriyasana IV
  • SMP Indriyasana IV
  1. YDI ‘St. Yohanes Pemandi “ , Jl Margorejo No. 149 Surabaya. Telp. : 031-8281920. Kegiatan yang dikelola :
  • TK Indriyasana V
  • Balai Pengobatan “ Puji Astuti “

Poli gigi dan BKIA

  1. YDI “ Kelahiran St. Perawan Maria “ Surabaya. Jl. Krembangan Buyut Buntu No. 16-18 Surabaya. Telp. : 031-3537974. Kegiatan yang dikelola :
  • TK Indriyasana VI
  1. YDI “Hati Kudus Yesus” Surabaya. Jl. Dukuh Kupang XXXI/48 Surabaya. Alamat Sekretariat : Jl. Krembangan Masigit 52 B. Telp. : 031-5611067. Kegiatan yang dikelola :
  • TK Indriyasana VII
  • SD Indriyasana VII
  • SMP Indriyasana VII
  1. YDI “ St. Yusup “ Blitar Kegiatan yang dikelola :
  • TK Indriyasana VIII-A : Jl. Ngeni Wonotirto- Blitar
  • TK Indriyasana VIII-B : Jl. Wijaya Kusuma Mojorejo, Wates- Blitar
  • TK Indriyasana VIII-C :  Banyu Urip
  1. YDI “ St. Petrus dan Paulus “ Wlingi , Kegiatan yang dikelola :
  • TK Indriyasana IX  : Jl .Supriyadi no 25 Resapombo , Doko-Blitar

Perkembangan Yayasan Dharma Ibu

Seiring dengan perkembangan Sekolah / Pra Sekolah di Kelurahan – kelurahan, TK Indriyasana I mengalami kesulitan mendapatkan murid, sehingga pada tahun ajaran 2018-2019 TK Indriyasana I ditutup, begitu pula TK Indriyasana VIII-C :  Banyu Urip Blitar juga tutup.

Balai Pengobatan ‘Puji Astuti” juga mengalami dampak perkembangan Layanan Kesehatan Gratis , sehingga sulit mendapatkan pasien, akhirnya Balai Pengobatan “ Puji Astuti “ ditutup. Demikian juga halnya dengan Rumah bersalin Panti Nirmala, Poli Umum, Poli Gigi, KIA dan Penitipan Anak, semua ditutup pelayanannya karena tidak mendapatkan pasien akibat banyak layanan BPJS . Banyak bidan yang buka praktek layanan persalinan sendiri.

Penutup

Demikianlah Sejarah Singkat Wanita Katolik RI DPD Jawa Timur, ke depannya tentu akan menghadapi banyak tantangan, baik yang internal ataupun eksternal, namun juga memperoleh banyak peluang di dalam menemukan dan mengembangkan bentuk-bentuk pengabdian dan pelayanan kita. Bantuan dan dukungan dari semua pihak baik dari kalangan gereja , pemerintah, maupun dari masyarakat umum atau  kaum awam sangatlah dibutuhkan dalam perkembangan organisasi yang menjadi tanggung jawab semua anggota.

 

Surabaya, Mei 2021

 

 

 

                                                     Pedoman Kerja Wanita Katolik RI 

                                                                  DPD Jawa Timur 

                                                            Masa Bakti 2020-2025

 

            Ketua Presidium

  1. Memimpin dan mengendalikan organisasi sesuai AD-ART serta bertanggung jawab atas seluruh kegiatan organisasi baik kedalam maupun keluar dan menentukan kebijakan-kebijakan bersama Anggota Presidium I dan Anggota Presidium II
  2. Mengkomunikasikan Visi (share visian) dan misi organisasi
  3. Merepresentasi eksistensi organisasi
  4. Mengambil dan mengeluarkan keputusan berdasarkan musyawarah
  5. Memimpin rapat pengurus maupun konferensi secara bergantian dengan Anggota Presidium I dan Anggota Presidium II
  6. Menyelamatkan organisasi bila dalam keadaan kritis
  7. Mengayomi, membina, membimbing, seluruh jajaran organisasi
  8. Menata, mengelola dan memberdayakan (empower) seluruh sumber daya organisasi
  9. Membawahi:
  • Sekretaris
  • Bidang Organisasi
  • Bidang Usaha

       Memberikan arahan dan komunikasi jajaran organisasi dan pelaksanaan program 

 

            Anggota Presidium I

  1. Membantu Ketua Presidium Bersama dengan Anggota presidium II dalam memimpin dan mengendalikan organisasi sesuai AD-ART serta bertanggung jawab atas seluruh kegiatan organisasi baik kedalam atau keluar dan menentukan kebijakan-kebijakan
  2. Mewakili Ketua Presidium dalam tugasnya bila berhalangan
  3. Diminta atau tidak memberikan saran-saran atau pertimbangan yang dipandang perlu kepada Ketua Presidium tentang langkah-langkah atau tindakan-tindakan yang perlu diambil dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewajiban organisasi
  4. Memimpin rapat pengurus dan konferensi secara bergantian dengan Ketua Presidium dan Anggota Presidium II
  5. Membawahi:
  • Bendahara
  • Bidang Humas

 

           Anggota Presidium II

  1. Membantu Ketua Presidium Bersama dengan Anggota presidium I dalam memimpin dan mengendalikan organisasi sesuai AD-ART serta bertanggung jawab atas seluruh kegiatan organisasi baik kedalam atau keluar dan menentukan kebijakan -kebijakan
  2. Mewakili Ketua Presidium dalam tugasnya bila berhalangan
  3. Diminta atau tidak memberikan saran-saran atau pertimbangan yang dipandang perlu kepada Ketua presidium tentang langkah-langkah atau tindakan-tindakan yang perlu diambil dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewajiban organisasi
  4. Memimpin rapat pengurus dan konferensi secara bergantian dengan Ketua Presidium dan Anggota Presidium I
  5. Membawahi:
  • Bidang Pendidikan
  • Bidang Kesejahteraan

 

           Sekretaris I

  1. Membantu presidium dalam pelaksanaan surat menyurat kedalam maupun keluar
  2. Mempersiapkan rapat/laporan yang dibutuhkan rapat
  3. Menghimpun/mengatur dan menyimpan semua arsip serta dokumen secara kronologis
  4. Membuat agenda surat masuk dan keluar
  5. Bertanggung jawab terhadap inventaris organisasi
  6. Memastikan terlaksananya komunikasi dengan berbagai pihak baik internal maupun ekstenal organsasi
  7. Menjadi pusat data dan informasi
  8. Memberikan masukan/pertimbangan kepada Presidium dalam kaitan dengan penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan berdasarkan data/informasi
  9. Membuat SKEP, Surat Mandat, Surat Tugas, dan surat-surat lain semacamnya apabila diperlukan
  10. Memelihara rahasia organisasi

 

           Sekretaris II

  1. Mewakili sekretaris I dalam melaksanakan tugasnya bila berhalangan
  2. Menjadi Protokol dalam setiap rapat, bergantian dengan sekretaris I
  3. Membuat notulen rapat
  4. Memelihara rahasia organisasi

 

           Bendahara I

  1. Merencanakan dan melaksanakan anggaran keuangan
  2. Menerima, menyimpan serta mengeluarkan uang organisasi atas persetujuan pimpinan dengan menggunakan nota persetujuan.
  3. Membuat laporan pertanggung jawaban keuangan untuk dibacakan dalam setiap rapat pengurus maupun rapt pleno
  4. Melaksanakan pembukuan uang iuran maupun uang hasil usaha lainnya
  5. Menerima dan memberi tanda terima uang iuran dari cabang
  6. Memastikan pengelolaan keuangan organisasi yang sehat
  7. Mempersiapkan segala sesuatu bila diadakan pemeriksaan keuangan
  8. Membayar iuran kepada DPP.
  9. Memberikan masukan/pertimbangan kepada Presidium tentang kondisi keuangan

 

           Bendahara II

  1. Membantu bendahara I dalam melaksanakan tugasnya sesuai penugasan yang telah ditentukan
  2. Mewakili bendahara I bila berhalangan

 

 

            Bidang Organisasi

Tugas pokok :            

Mewujudkan terselenggaranya kehidupan berorganisasi secara tertib dan teratur   di wilayah kerjanya, berdasarkan AD dan ART yang telah disepakati dan diputuskan dalam Kongres, Konferensi, dan  kebijakan Organisasi.

 

Fungsi :

  1. Memastikan penyempunaan Visi, Misi, AD–ART, hasil keputusan Kongres dipahami dan dihayati oleh seluruh anggota.
  2. Memastikan bahwa kaderisasi dapat dilaksanakan di wilayah kerjanya
  3. Memastikan adanya kelengkapan data base anggota di wilayah kerjanya.
  4. Merumuskan kebijakan operasional organisasi sesuai realita/kondisi yang dihadapi

 

Strategi :

  1. Mensosialisasikan Visi, Misi, AD–ART hasil keputusan Kongres kepada seluruh anggota di wilayah kerja.
  2. Mensosialisasikan panduan kaderisasi keseluruh wilayah kerjanya.
  3. Menyebarluaskan sistem data base dan manfaatnya untuk organisasi keseluruh wilayah kerjanya.
  4. Merangkum hasil pendataan anggota dari cabang-cabang untuk disampaikan  ke DPP sebagai kelengkapan data anggota.
  5. Memastikan hasil Konferensi dapat diterima dan dimengerti oleh seluruh anggota wilayah kerjanya

 

 

            Bidang Kesejahteraan

Tugas Pokok :

            Meningkatkan pelayanan dan pengembangandalam upaya mengangkat harkat martabat manusia dan berpartisipasi aktif membangun kehidupan masyarakat yang sejahtera, sehat rohani maupun jasmani di wilayah kerjanya.

 

Fungsi :

  1. Memastikan peningkatan kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia khususnya perempuan.
  2. Memastikan Ajaran Sosial Gereja menjadi dasar iman anggota di wilayah kerjanya
  3. Memastikan perempuan mampu menghadapi tantangan era globalisasi dan otonomi daerah.

 

Strategi : 

  1. Mengkoordinasi, memfasilitasi, dan memonitor program-program nasional  dan pilihan serta Gerakan nasional yang dilaksanakan oleh ranting-ranting melalui cabang-cabangnya.
  2. Memastikan bahwa penyelenggaraan karya organisasi ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan bermanfaat bagi masyarakat.
  3. Mensosialisasikan  Ajaran Sosial Gereja bagi anggota di wilayah kerjanya.
  4. Menumbuhkan kesadaran kepada keluarga akan kemampuan untuk menangkal akses negative pengaruh Globalisasi dan Otonomi Daerah.
  5. Merumuskan, merancang, dan melaksanakan program kerja sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi organisasi
  6. Melakukan evaluasi pelaksanaan program
  7. Merintis program untuk dapat menjadi karya unggulan organisasi yang kemudian perlu dikelola secara profesional.
  8. Mencermati kondisi dan menganalisa dinamika kehidupan masyarakat untuk mampu bersikap peka dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
  9. Penyadaran kepada perempuan untuk mampu memproduksi barang yang berkualitas dan mampu bersaing melalui program PPUK.

 

 

            Bidang Pendidikan

Tugas Pokok :

Mewujudkan tanggung jawab untuk berperan aktif mencerdaskan bangsa, mengaktualisasikan potensi perempuan dan para anggota, khususnya agar menyadari akan hak dan kewajibannya, mampu menjalankan peran secara optimal, dan berpartisipasi Aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

Fungsi :

  1. Memastikan adanya peningkatan kualitas dan kwantitas SDM untuk mengembangkan wawasan dan kreatifitas anggota di wilayahnya kerjanya.
  2. Mendorong/memfasilitasi penyelenggaraan Pendidikan formal maupun non-formal, dalam upaya mengembangkan wawasan, meningkatkan kemampuan, dan keterampilan bagi masyarakat.

 

Strategi:

  1. Mengupayakan dan melaksanakan adanya program di Cabang untuk meningkatkan kualitas SDM, pelatihan ketrampilan, pengetahuan, wawasan (termasuk wawasan politik)  di wilayah kerjanya.
  2. Mensosialisakan buku-buku panduan yang ada bagi pelatihan-pelatihan penigkatan kesejahteraan bersama.
  3. Mengupayakan dan memfasilitasi program-program pelatihan peningkatan kesejahteraan bersama mengacu pada buku panduan yang ada.

 

 

             Bidang Humas

 Tugas Pokok :            

            Melaksanakan penyebaran dan menghimpun informasi serta pembinaan hubungan 

            antar organisasi dan  antar lembaga di wilayah kerjanya.

  Fungsi :

  1. Memastikan kehadiran Wanita Katolik RI di tengah–tengah organisasi lain dapat diakui.
  2. Mewujudkan jaringan kerjasama  dengan Pemerintah Daerah, Swasta, Hirarki Gereja, dan Lembaga Sosial Masyaakat serta Media Masa.
  3. Menghimpun dan memelihara liputan peristiwa organisasi di daerahnya sebagai dokumentasi.
  4. Menghimpun dan memelihara buku-buku pengetahuan hasil seminar, lokakarya,

dokumen-dokumen yang lain demi terwujudnya perpustakaan.

 

Strategi :

  1. Memastikan Bidang Humas menjadi pusat informasi dan komunikasi di wilayah kerjanya.
  2. Menggali dan mencari informasi untuk kepentingan organisasi
  3. Mencermati, mencari, dan menemukan berbagai isu dalam dinamika kehidupan masyarakat yang sesuai dengan misi organisasi guna memantapkan penetapan program kerja organisasi.
  4. Memastikan Bidang Humas menyebarluaskan informasi kepada pihak yang berkepentingan secara cepat dan tepat.
  5. Memastikan terjalin kerjasama dengan Instansi Pemerintah Daerah, Hirarki Gereja, LSM di wilayah kerjanya.
  6. Memastikan terselenggaranya dokumentasi
  7. Memastikan terselenggaranya perpustakaan
  8. Mengadakan pendidikan jurnalis.

 

 

            Bidang Usaha

Tugas Pokok :

            Mengupayakan sumber dana guna membangun kemandirian dalam pengembangan

            Organisasi di wilayah kerjanya dan menunjang kelancaran pelaksanaan program kerja. 

Fungsi :

  1. Berusaha mencari dana untuk terselenggaranya kehidupan organisasi dan terlaksananya program hasil Kongres dan Konferda di daerahnya.
  2. Memperluas jaringan kerja sama dengan pihak-pihak penyandang dana/sponsor

Strategi  :

  1. Mengusahakan dana yang sah dan tidak mengikat
  2. Memotivasi terwujudnya pengumpulan dana abadi di wilayah kerjanya untuk diteruskan kepada tim pengelola dana abadi nasional di pusat.

 

 

 

 

 

 

 

 

                                              KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN WANITA KATOLIK RI

                                                          DI WILAYAH KERJA DPD JAWA TIMUR

                                                                   SELAMA PANDEMI COVID-19

                                                                                 TAHUN 2020

 

NOKEGIATANSASARANWAKTU PELAKSANAANKETERANGAN/ PELAKSANA
1

Menyemprotkan cairan Disenfektan 

 

Membagikan 350 paket sembako 

 

Membagikan 23  tanaman sayuran organik dengan benih, obat

Membagikan bingkisan 

Membagikan 50 paket sembako

Membagikan paket sembako 

Membagikan bingkisan 

 

 

Fasilitas umum 

 

Mayarakat yang terdampak Covid

 

Masyarakat  

 

Tukang becak, pemulung, tukang sapu jalan

 

 

Anak penderita Kanker

 

Bulan Maret 2020

 

Bulan April 2020

 

 

 

17 Mei 2020

 

19 Juni 2020

 

20 Juni 2020

DPD Bekerjasama dengan Beberapa Ormas 

DPD Bekerjasama WKRI DPD Jawa Timur (20 paket) dengan BKOW Propinsi Jawa Timur

DPD Jawa Timur Bekerjasama DPC Ratu Pecinta Damai Surabaya

Bekerjasama dengan Kelompok Kategorial 

 

DPD 

DPD bekerjasama dengan Lions Club Surabaya

 

 

2

Membuat 500  masker 

 

Membagikan 50 paket sembako 

Masyarakat 

Selama adanya wabah Covid-19

26 Juni 2020

DPC Gembala Yang Baik bekerjasama dengan Tim Peduli Covid Paroki 

DPC Gembala Yang Baik 

3Membuat 658 baju APD dan  8480 masker 22 RS di Jawa  2 RS di Larantuka & SumbaSetiap hari DPC St. Marinus Surabaya bekerjasama dengan DPP dan YKBS
4Membagikan 50 paket sembako Lansia Bulan Maret 2020Ranting Alfeus DPC Sakramen Maha Kudus
5

Membagikan   nasi  bungkus  & minuman :

90 bungkus 

70 bungkus 

70 bungkus & masker 70

100 bungkus

70 bungkus

Masyarakat yang ada di Terminal angkutan Manukan Kulon

 

Setiap hari Sabtu/ Minggu sore

2 Mei 2020

9 Mei 2020

10 Mei 2020

13 Mei 2020

16 Mei 2020

DPC ST. Stefanus Surabaya
6Membagikan 100 Nasi bungkus dan susuTukang becak, Gojek, Pemulung dan warga sekitar Gereja yang terkena dampak Covid

26 April 2020

14 Mei 2020

DPC St. Vincentius A Paulo Surabaya
     

 

7Membagikan 205 nasi bungkusPekerja Ojol dan masyarakat sekitar Gereja27 April  2020DPC Salib Suci Tropodo
8

Membagikan 200 nasi bungkus 

 

Membagikan 23 tanaman sayuran organik, benih dan obat

 

Masyarakat umum 

 

 

Masyarakat umum

 

 

10 Mei 2020

5 Juli 2020

 

17 Mei 2020

DPC Ratu Pecinta Damai Surabaya bekerjasama dengan PSE Paroki

DPC Ratu Pecinta Damai 

bekerjasama dengan DPD

9Membagikan 20 paket sembako Umat (anggota WKRI) DPC St. Maria Anuntiata Sidoarjo
10Membagikan 100 nasi bungkus, kue, minuman Tukang becak, ojol, masyarakat 13 Mei 2020DPC Kristus Raja Surabaya
11

Menyerahkan 

125 masker, sabun cair dan makanan ringan 

 

150 masker 

 

 

50 face shield

Seminari Menengah Garum Blitar

 

Masyarakat yg 

membutuhkan 

 

Puskesmas Mojowarno

12 April 2020DPC St. Maria Jombang

 

 

12Membagikan 225   nasi kotak, 150 Minuman Pasukan kuning, tukang becak, petugas keamanan 11 Mei 2020DPC St. Petrus dan Paulus Wlingi
13Membagikan 300 nasi bungkus Masyarakat yang membutuhkan 28 April 2020DPC St. Maria Blitar 
14Membagikan 486  paket sembako Umat dan masysrakat yang membutuhkan 

Bln April 2020

Bln Mei 2020

DPC St. Yosef Mojokerto 
15Membagika 55 paket sembako Masyarakat yang membutuhkan 11 Mei 2020 DPC St. Matius Pare 
16

Membuat APD :

Baju Hazmat : 11  Masker : 200

 

Membagikan 60 paket sembako

RSUD

 

 

 

Masyarakat di lingkungan Gereja

16 April 2020

 

 

 

11 April 2020

DPC Paulus Nganjuk 
17Membagikan 150 nasi bungkus & 150 minumanMasyarakat10 Mei 2020DPC Mater Dei Madiun
18Membagikan 135 paket sembako Umat di Stasi 9 – 10 Mei 2020DPC St. Yosef Ngawi bekerjasama dengan PSE Paroki 
19Membagikan 60 paket sembako Masyarakat yang membutuhkan 12 April 2020DPC St. Paulus Bojonegoro
20

Membagikan 40 paket sembako 

 

Sabun mandi cair dll

Tukang becak, masyarakat yang membutuhkan

 

Panti Wreda

 

19 April 2020DPC St. Petrus dan Paulus Rembang
21

Membagikan 20  paket sembako (@ Rp. 110.000) 

 

Nasi bungkus dan 150 masker 

Umat Stasi yang membutuhkan 

 

 

Masyarakat 

7 April 2020

 

 

 

DPC St. Maria Immaculata Lasem 
22Membagikan  100 nasi bungkus Tukang Becak dan warga yang membutuhkan 20 – 23 April 2020DPC St. Pius Blora 
23

Membagikan 500 paket sembako

Membagikan APD ( 75 baju, 75 box masker, 75 kacamata, 75 sarung tangan, 75 pelindung wajah) 

Umat di Paroki dan Stasi 

Puskesmas, RSU, RSUN 

 DPC St. Petrus Tuban bekerjasama dengan Paroki 
24Membagikan 30 paket sembako Umat lingkungan dan masyarakat6 Juni 2020DPC St. Yusup Blitar

 

 

 

25Membagikan nasi bungkus Untuk tukang becak DPC St. Vincentius A Paulo Kediri
26Menyumbang sembako dan bingkisan Panti Asuhan  Kerjasama DPC se KC 1 (Surabaya dan sekitarnya)
27Membagikan 50 zak beras @ 5 kg 12 April 2020

DPC Roh Kudus Surabaya bekerjasama dengan Paroki

 

28
  1. Menyumbang uang, perlengkapan bayi, perlengkapan mandi, mainan anak, baju anak
  2. Menyumbang uang dan pakaian

Panti Asuhan AL Mukmin, Wiyung Surabaya

 

 

Panti Asuhan DORKAS Porong 

 

12 Juli 2020Ranting G2 DPC St. Yusup Surabaya 
29  Membagikan 60 paket sembakoTukang becak, tukang sapu jalan, tukang sampah, pemulung19 Juli 2020DPC Roh Kudus Surabaya
30Membagikan sembakoMasyarakat muslim

14, 23 Juli 2020

2, 8, 18 Agustus 2020

DPC St. Stefanus Surabaya Bekerjasama dengan kelompok Kategorial yang lain

 

 

 

 

 

 

31Membadikan sembako, nasi bungkus, minuman herbalMasyarakat sekitar gereja dan umatJuli, Agustus 2020DPC Ratu Pecinta Damai Surabaya
32Membagikan 80 paket sembakoAnggota Wanita Katolik RI DPC 28 Juli 2020DPC St. Hilarius Klepu
33Membagikan sembako Masyarakat umumJuli 2020DPC Paulus Juanda bekerjasama dengan kelompok Kategorial Paroki
34Membagikan 50 paket sembakoUmat Paroki, asrama Bonaventura

14, 21 25 Juli

5 Agustus

DPC Mater Dei
35Mengadakan pasar murahMasyarakat umum 12 Nopember 2020 DPC St.Hilarius Klepu bekerjasama dengan Paroki