Tentang Kami

PENATAAN WARNA LAMBANG

Penataan warna pada Lambang sebagaimana diuraikan dalam buku AD-ART menggambarkan jati diri organisasi

Dasar Latar Biru

Lambang kesediaan – kesetiaan Ibu

Gambar Elang Berwarna Kuning

Tanda doa nan suci hening

Salib Kuning Keemasan Bersinar Lima

Pancasila dasar Negara

Garuda dengan Sayap Berujung Tiga

Tri Tunggal Suci kepercayaan kita

Garuda Lambang Kebangsaan

Menyatakan tenaga dan kekuatan, Mendukung Salib Kepercayaan menuju ke arah keTuhanan

Merah Darah di Tengah Elang

Tanda kecintaan Tuhan Yang Maha Esa


Tentang Kami

Wanita Katolik Republik Indonesia atau yang disebut Wanita Katolik RI adalah organisasi masyarakat (ormas) yang berbadan hukum yang didirikan di Jogjakarta pada tanggal 26 Juni 1924

Wanita Katolik RI berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima

Wanita Katolik RI sebagai wadah kesatuan gerak Perempuan Katolik, bersifat sosial aktif, mandiri dan dalam menjalankan kehidupan berorganisasi berpedoman pada prinsip Solidaritas-Subsidiaritas, berlandaskan Ajaran Sosial Gereja

Anggota Wanita Katolik RI adalah Perempuan warga Negara Indonesia beragama Katolik, berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun

STRUKTUR BAGAN

 


Visi

  1. Organisasi yang mandiri, bersifat sosial aktif, memiliki kekuatan moral dan kemampuan yang handal, dalam menjalankan      karya-karya pengapdian mewujudkan kesejahteraan bersama serta menegakkan harkat dan martabat manusia

Misi

  1. Mengembangkan kemampuan serta memberdayakan seluruh jajaran Wanita Katolik RI, guna meningkatkan kualitas pengapdian dalam masyarakat.
  2. Menghimpin aspirasi dan mengaktualisasikan potensi Wanita Katolik RI agar karya pengapdian terwujud secara optimal dan berkesinambungan.
  3. Memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender dalam seluruh dimensi kehidupan.
  4. Mengupayakan lingkungan hidup yang seimbang.


Sejarah

      I. Sejarah berdirinya WKRI DPD Jawa Timur

Atas perkenan dan doa restu Mgr. De Backere CM Apostolik Vikaris Surabaya, maka pada tanggal 15 Agustus 1930 lahirlah Perkumpulan Wanita Katolik Cabang Surabaya yang diketuai oleh Ibu Gabriel Wartinah, salah seorang guru HIS Susteran Kepanjen Surabaya.

 

  • Tahun 1930 – 1936    :     Ketua Ibu Gabriel Wartinah

Ketua didampingi Moderator Rm. C. Sechoemaker, CM dan para pengurus lainnya, mempunyai anggota sebanyak 50 (lima puluh) orang yang tersebar di Kota Surabaya. Tujuan utama adalah meningkatkan kehidupan para wanita pada umumnya dan wanita katolik pada khususnya, dengan kegiatan antara lain: 1) Mengadakan kursus pemberantasan buta huruf, 2) Kursus memasak dan menjahit, 3) Pelajaran Agama Katolik, 4) Kunjungan seminggu sekali ke rumah para anggota, 5) Pelajaran Bahasa Belanda, 6) Kesenian tari Jawa. Pada waktu itu Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa daerah/jawa.

Pada tahun 1933 Romo Moderator pindah keluar kota dan sebagai gantinya Rm.Peterse,CM. Tahun 1935 Wanita Katolik memperingati hari ulang tahun ke -5, dengan mengadakan Fancy-Fair dan bertempat di Marine Tesois (sekarang Stella Maris). Pada acara ini juga diperkenalkan tari Serimpi yang masih asing bagi penduduk Surabaya. Kemudian mendirikan Maria Kongergasi dengan menggunakan bahasa Jawa, yang dipimpin oleh Romo F. Peterse, CM. Profect pertama adalah Ibu Gabriel Wartinah. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengadakan Retret yang dipimpin oleh Romo Mgr. A. Soegijopranoto SJ dari Yogyakarta, dan diikuti 50 (lima puluh) orang ibu.

 

  • Tahun 1936 – 1939    :     Ketua Ibu Agnes Suraksi Dirdjodipura

Pada kurun waktu tahun 1937 – 1940 beberapa ibu pengurus Wanita Katolik pindah tempat/keluar kota, karena membangun rumah tangga. Tenaga muda akhirnya muncul memegang kepengurusan. Ibu Agnes Suraksi sebagai ketua dan dibantu oleh beberapa ibu lainnya. Kegiatan ditingkatkan dan dibantu pendanaannya dari pihak lain, karena pada waktu itu memang sangat diperlukan berhubung dengan situasi pada waktu itu. Pada saat itu di Surabaya dirasakan keadaan mulai gawat, maka banyak keluarga yang meninggalkan Surabaya, sehingga bagi pengurus Wanita Katolik agak kesulitan untuk mengurusnya.

 

  • Tahun 1939 – 1942    :     Ketua Ibu Veronica Moedjinah

Tahun 1941 – 1942 Wanita Katolik diketuai oleh Ibu Veronica Moedjinah dan dibantu oleh para pengurus yang masih tinggal di Surabaya. Moderator tetap yaitu Romo F. Peterse, CM, mengadakan dasa warsa yang pertama dengan sederhana dan Misa Suci. Pertemuan diadakan di Jalan Kepanjen No. 10 Surabaya, dihadiri oleh Romo E. Van Mensvcort, CM yang sangat memperhatikan wanita katolik. Tahun 1942 keadaan tidak memungkinkan untuk mengadakan kegiatan organisasi, karena keadaan perang dan yang ada hanya semangat.

 

  • Tahun 1942 – 1950    :     masa kevakuman Wanita Katolik di Surabaya

Tahun 1942 – 1945 tepatnya tanggal 8 Maret 1942 Jepang datang di Surabaya. Keadaan menjadi berubah sama sekali, tidak diperbolehkan berkumpul lebih dari 5 (lima) orang. Wanita katolik seakan–akan lumpuh, tidak dapat menjalankan tugasnya sama sekali. Setelah beberapa lama mendapat tenaga muda yang aktif, salah satunya ibu Altaningsih. Bersama ibu Altaningsih, kegiatan dapat berjalan lagi yaitu mengunjungi dari rumah ke rumah keluarga katolik yang ada di Kota Surabaya. Romo Belanda diinternir/dipenjara, yang di Surabaya hanya 2 (dua) orang Romo untuk seluruh Keuskupan Surabaya, yaitu Romo Dwidjosusanto dan Romo H.J. Padmoseputro. Keduanya sangat sibuk mengurusi umat katolik seluruh keuskupan, sehingga kunjungan wanita katolik sangat diperlukan oleh keluarga–keluarga katolik.

Tahun 1945 setelah Jepang menyerah, Kemerdekaan Indonesia berkumandang di seluruh Nusantara, sehingga semangat timbul kembali. Harapan untuk bangkitnya wanita katolik kembali bernyala-nyala. Anggota wanita katolik yang jumlahnya tinggal beberapa, bersama-sama dengan bapak-bapak berbaur turut berjuang. Dimanapun tenaga diperlukan yaitu dapur umum dan PMI. 

Mulai tanggal 10 Nopember 1945 wanita katolik betul-betul tidak berdaya, karena anggota tidak ada yang masih tinggal di Surabaya, hanya dapat membantu para pejuang bangsa secara perorangan.

 

  • Tahun 1950 – 1952    :     Ketua Ibu G. Soedijono menghidupkan kembali Wanita Katolik Surabaya pada zaman kemerdekaan

Tahun 1950 sesudah Pemerintah Republik berkuasa kembali, maka banyak keluarga katolik yang kembali lagi ke Surabaya. Wanita katolik bangkit kembali dan diketuai oleh Ibu G. Soedijono yang dibantu oleh para pengurus lainnya, Anggotanya lebih kurang 100 (serratus) orang terdiri dari beberapa ranting-ranting. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia, agar semua dapat memahami maksud dan tujuan wanita katolik.

Nama Wanita Katolik ditambah dengan Republik Indonesia dari Hasil Kongres I tahun 1952 di Surakarta, Wanita Katolik RI mendapat status Badan Hukum dari Departemen Kehakiman dengan No. J.A 5/23/8 tanggal 5 Februari 1952, berlaku untuk seluruh Indonesia. Dan ditetapkan juga Vandel Organisasi, menyempurnakan AD/ART dan menyusun program kerja.

Wanita Katolik RI di kota Surabaya ada 5 (lima) Ranting yaitu : Ranting Kepanjen, Ketabang, Tanjung Perak, Darmo dan Sawahan. Kegiatan antara lain: 1) Mengkoordinir kegiatan yang sudah ada, 2) Melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan (membantu para korban bencana alam dan para keluarga yang kurang mampu), dan 3) Memberi penjelasan mengenai hal-hal yang baru.

 

  • Tahun 1952 – 1954    :     Ketua Ibu Koesno

Tahun 1952 pergantian pengurus diketuai oleh Ibu Koesno, didampingi oleh Romo A.Bastiaensen, CM sebagai moderator dan para pengurus lainnya. Kegiatan dipusatkan pada pengertian arti merdeka, karena banyak dari anggota yang masih belum paham tentang Kemerdekaan Negara. Kegiatan antara lain mengikuti dan menghadiri undangan perayaan hari Nasional, mengunjungi dan memberi hiburan kepada narapidana pada hari Natal dan membawa bingkisan, dan mengunjungi para usia wreda/anak yatim-piatu/rumah sakit pada hari-hari Kartini, hari Ibu dan hari 17 Agustus.

Ranting Tanjung Perak telah dirintis dengan mendirikan Rumah Bersalin “Panti Nirmala” atas prakarsa Ibu C. Wigyanto. Demikian juga mendirikan Taman Kanak-kanak yang diasuh oleh Ibu Zina dengan nama “TK Indriyasana I”. Proses pendirian ini berjalan dengan lancar sekali dan mendapat sambutan baik dari daerah sekitarnya.

 

  • Tahun 1954 – 1958    :     Ketua Ibu V.M Welerubun. Sesudah Kongres di Yogyakarta nama Ranting Wanita Katolik Surabaya berganti status menjadi Cabang dibawah Komisariat

Tahun 1954 diadakan pergantian pengurus, dan terpilih sebagai ketua Ibu V.M. Welerubun didampingi oleh Romo Moderator Romo P.A. Bastiaensen, CM, yang kemudian dilanjutkan oleh Romo H.Windrich, CM. Anggota tiap-tiap ranting telah lebih dari 50 (lima puluh) orang, yaitu : Kepanjen 100, Ketabang 75, Perak 50, Sawahan 50, dan Darmo 100. Disamping itu telah mempunyai anak ranting di Wonokromo dan Ngagel yang anggotanya ada 50 orang. Kegiatan Wanita Katolik RI pada saat itu antara lain berusaha mendapatkan beras dari BULOG. Karena pada waktu itu harga beras sangat mahal. Setiap bulan mendapat 10 (sepuluh) ton beras, lalu dijual kepada para anggota di seluruh ranting-ranting dengan harga murah. Setelah harga beras murah, kegiatan ini dihentikan.

 

  • Tahun 1958 – 1965    :     Ketua Ibu G. Soedijono, Beliau ditunjuk menjadi Komisaris Jawa Timur

Tahun 1959 diadakan Kongres IV (keempat) di Yogyakarta dan diputuskan bahwa di tiap Paroki dapat mendirikan Cabang Wanita Katolik RI, dengan syarat jumlah anggota minimal 15 orang. Oleh karena itu sesudah Kongres, maka di Surabaya terbentuk 7 (tujuh) cabang yaitu : Cabang Kepanjen, Cabang Tanjung Perak, Cabang Ketabang, Cabang Darmo, Cabang Wonokromo, Cabang Ngagel dan Cabang Sawahan.

Demikian juga di Madiun, Ponorogo, Ngawi, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Wlingi, Mojokerto, Sidoarjo, Cepu, Bojonegoro, Rembang, dan Lasem. Secara keseluruhan di Keuskupan Surabaya ada 30 (tiga puluh) Cabang Wanita Katolik. Cabang-cabang itu diasuh oleh Komisaris Daerah Jawa Timur Keuskupan Surabaya, yang ditunjuk oleh Pengurus Pusat yaitu Ibu G. Soedijono. Cabang-cabang di Kotamadya Surabaya, dikoordinir oleh Koordinatoris yang dijabat oleh salah seorang Ketua Cabang yang dipilih oleh Cabang se Kota Madya selama 3 (tiga) tahun.

Pada tahun 1960 Surabaya menerima/ketempatan Kongres V (kelima) Wanita Katolik RI bertempat di Susteran Kepanjen. Terjalin kekompakan dalam melaksanakan tugas, sehingga Kongres dapat berjalan dengan lancar dan memuaskan.

Pada tahun 1965 Kongres VII (ketujuh) di Semarang memutuskan bahwa Komisariat Daerah (Komda) diganti menjadi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang dipilih oleh Cabang-cabang dalam Konferensi Daerah. Bentuk kepemimpinan yang semula Ketua diubah menjadi Presidium, yaitu pucuk pimpinan organisasi yang terdiri dari 3 (tiga) orang yaitu Ketua Presidium, Anggota Presidium I dan Anggota Presidium II. Presidium diberlakukan pada tingkat Pusat dan Daerah, Ketua dan Wakil Ketua diberlakukan pada tingkat Cabang dan Ranting. Penamaan Badan Pengurus sebagai berikut: a) Tingkat Pusat dinamakan Dewan Pimpinan Pusat, b) Tingkat Daerah dinamakan Dewan Pimpinan Daerah, c) Tingkat Cabang dinamakan Pengurus Cabang, dan d) Tingkat Ranting dinamakan Pengurus Ranting. 

Pada Kongres VII (ketujuh) di Semarang ini juga diresmikan berdirinya Yayasan Dharma Ibu (disingkat YDI) berdasarkan akte notaris tanggal 12 Agustus 1965. Pembentukan Yayasan Dharma Ibu untuk penanganan masalah Pendidikan dan Kesehatan.

 

  • Masa Bakti Tahun 1965 – 1968        :

Konferda I (pertama) Tahun 1965, terpilih sebagai Ketua Presidium DPD pertama Ibu Anna Asmanoe, meliputi Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang. Staf DPD di Malang Ibu Soekarno, staf di Surabaya Ibu Th. Soedono, dan Sekretaris Ibu M. Soeprapto.

 

  • Masa Bakti Tahun 1968 – 1975        :

Konferda II (kedua) Tahun 1968, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu V.M. Welerubun dari Surabaya, anggota Presidium I Ibu Moelyono Hadi dari Malang, dan anggota Presidium II Ibu M.V. Chandrajaya dari Surabaya.

      Pada Konferensi Daerah II (kedua) ini bertempat di Susteran Kepanjen, dan dihadiri oleh cabang-cabang dari Keuskupan Malang dan Surabaya. Acara pokok untuk menentukan pakaian seragam Wanita Katolik yang telah diputuskan dalam Kongres. 

Kegiatan antara lain a) membimbing Cabang-cabang dalam melaksanakan tugasnya, b) bekerja sama dengan organisasi Wanita lainnya, c) menjadi anggota BKOW tingkat I Jawa Timur dan duduk dalam kepengurusan, dan d) membantu melaksanakan program Pemerintah.

Tahun 1970 Kongres IX (kesembilan) di Jakarta yang diikuti oleh DPD dan cabang-cabangnya. Berhubung sulitnya komunikasi DPD dengan cabang yang di pelosok, maka diputuskan tidak lagi mengikuti hierarki Pemerintah, melainkan menurut hierarki Keuskupan. Oleh karena itu, sejak tahun 1970 DPD Jawa Timur pisah dengan Malang. DPD keuskupan Surabaya berhak memakai nama Jawa Timur, karena tempatnya di Ibukota Propinsi.

Pada Kongres IX ini diputuskan untuk menyeragamkan semua lembaga pendidikan di bawah yayasan yang didirikan Wanita Katolik RI, dengan nama Indriyasana yang berarti ‘sasana/tempat pendidikan untuk melatih, mendisiplinkan kemampuan indra dan tindakan’.

Pelaksanaan Konferda III (ketiga) dan IV (keempat) belum diketemukan datanya. Dengan melihat masa bakti sebelumnya, konferda dilaksanakan sekitar tahun 1971-1975.

 

  • Masa Bakti Tahun 1975 – 1979        :

Konferda V (kelima) Tahun 1975, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu V.M. Welerubun, anggota anggota presidium I dan anggota presidium II. 

Tetapi kemudian Ibu V.M. Welerubun mengundurkan diri dan digantikan oleh Ibu E. Larope yang memimpin dalam periode 1975 – 1979. Kegiatan bertambah dengan adanya organisasi baru Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) tingkat I Jawa Timur, Wanita Katolik menjadi anggota dan selalu duduk dalam kepengurusan. Taman Kanak-Kanak Wanita Katolik di Kota Surabaya : a) Cabang Tanjung Perak mempunyai TK “Indriyasana” dan Rumah Bersalin, b) Cabang Kepanjen mempunyai TK “Indriyasana” dan pada tahun 1980 telah mempunyai gedung sendiri, c) Cabang Ketabang mempunyai TK “Indriyasana” dan Klinik Bersalin, saat itu gedung masih dalam persiapan pembangunan, d) Cabang Sawahan mempunyai TK ”Indriyasana”, dan pada tahun 1983 sudah sampai kelas V, gedung masih dalam pembangunan, dan masih bertempat di halaman Pastoran Widodaren, e) Cabang Darmo mempunyai TK dan SMP “Indriyasana” maju dan dapat penghargaan dari Pemerintah. 

Pada tahun 1983, SMP Sore terpilih menjadi sekolah Teladan di Kecamatan Karangpilang. Guru dan Murid juara II di Kecamatan tersebut. Sekolah dikelola oleh Yayasan Dharma Bhakti, yang dalam waktu singkat diganti dengan nama Yayasan Dharma Ibu (YDI). Hal ini disesuaikan dengan putusan Raker di Yogyakarta bulan April 1983. Sejak tahun 1975 Wanita Katolik duduk dalam BKS Wanita Kristen Kotamadya Surabaya.

 

  • Masa Bakti Tahun 1979 – 1982        :

Konferda VI (keenam) Tahun 1979, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu Threes Soedono, anggota presidium I dan anggota presidium II.

Periode 1979 – 1982 dipegang oleh Ibu Thress Soedono, dengan Moderator Romo A.J. Dibyokaryono, PC. Cabang-cabang tetap berkembang kegiatannya, hanya jumlah anggota yang agak menurun terutama di pelosok-pelosok, karena banyak yang takut sehubungan dengan profesi suami. Kongres XII (kedua belas) di Bandung tahun 1981 memutuskan bahwa Kongres berikutnya (tahun 1984) akan diadakan di Surabaya. Oleh karena itu DPD sudah membentuk panitia Kongres dan diketuai oleh Ibu Drs. J. Soejadi, dibantu seksi-seksi. Seksi usaha sudah giat mencari dana. Demikian juga Cabang di kotamadya, semua berusaha agar Kongres yang akan datang dapat berjalan lancar dan sukses.

 

  • Masa Bakti Tahun 1982 – 1986        :

Konferda VII (ketujuh) Tahun 1982, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu V.M. Welerubun, anggota Presidium I dan anggota Presidium II.

Pada bulan Juli 1983 DPD Jawa Timur mengadakan penataran organisasi bagi cabang-cabang di dalam kota Surabaya. Dimana sebelumnya DPD telah mengikuti penataran yang diadakan oleh DPP Wanita Katolik di Yogyakarta pada bulan April 1983. Penataran mengenai proyek Wanita Katolik yang harus bernaung dalam Yayasan Dharma Ibu, sesuai keputusan Kongres di Bandung tahun 1981. Kegiatan lainnya yaitu turut duduk dalam Delsos yang dipimpin oleh Romo Steen, CM dan juga duduk dalam kepengurusan Sub Regio Surabaya. DPD Wanita Katolik pernah diikutsertakan dalam KUKSI (Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia) di Semarang dan di Klender tahun 1972.

Kongres XIII (ketiga belas) Tahun 1984 di Surabaya, menegaskan kembali bahwa seluruh yayasan yang didirikan Wanita Katolik RI menggunakan nama Yayasan Dharma Ibu (YDI) demi keseragaman dan kebersatuan.

 

  • Masa Bakti Tahun 1986 – 1990        :           

Konferda VIII (kedelapan) Tahun 1986, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu Soejono, anggota Presidium I Ibu E. Larope dan anggota Presidium II Ibu Christine Soeharjono. 

Pada Kongres XIV (keempat belas) Tahun 1987 di Jakarta, menetapkan perubahan masa bakti DPP dan DPD dari yang semula 4 (empat) tahun menjadi 5 (lima) tahun dan Pemantapan Yayasan Dharma Ibu.

 

  • Masa Bakti Tahun 1990 – 1995        :           

Konferda IX (kesembilan) Tahun 1990, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu E. Larope, anggota Presidium I Ibu J.F. Bilbo dan anggota Presidium II Ibu A. Dengah Torar.

Pada Kongres XV (kelima belas) Tahun 1993 di Yogyakarta, menghasilkan Pembaharuan dan Penyempurnaan antara lain tentang wilayah kerja Wanita Katolik RI menurut Struktur Pemerintahan. Dewan Pengurus Pusat (DPP) di tingkat Nasional, Dewan Pengurus Daerah (DPD) di tingkat Propinsi/Keuskupan dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) di tingkat Kabupaten/Kotamadya.

 

  • Masa Bakti Tahun 1995 – 2000        :

Konferda X (kesepuluh) Tahun 1995, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu J.F. Bilbo, anggota Presidium I Ibu A. Dengah Torar dan anggota Presidium II Ibu W. Candrajaya.

Salah satu kegiatan saat itu adalah Program Kelangsungan Hidup Ibu dan Anak (PKHIA) yang bekerjasama dengan UNICEF dan Kementerian Agama, bersama dengan organisasi wanita lainnya seperti Fatayat dan Aisyiyah. Program ini dilaksanakan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi pada saat proses persalinan.

Pada tahun 1998 terjadi Tragedi Trisakti tanggal 12 Mei 1998 yang menyebabkan 4 (empat) mahasiswa tertembak mati dan kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan demonstrasi mahasiswa pun meluas hampir di seluruh Indonesia. Pada saat itu wanita katolik di Surabaya memberikan bantuan berupa nasi bungkus/nasi kucing, yang pendistribusiannya dibantu oleh Romo L. Agus Sudaryanto, CM (Romo penasihat rohani).

            

 

  • Masa Bakti Tahun 2000 – 2005        :

Konferda XI (kesebelas) Tahun 2000, terpilih sebagai Koordinator Presidium Ibu A. Dengah Torar, anggota Presidium I Ibu Vc. Dwi Hartiningrum dan anggota Presidium II Ibu Christine Soeharjono

Kongres XVII (ketujuh belas) di Jakarta Tahun 2004 : Dalam kaitan dengan pemahaman Wanita Katolik RI sebagai komunitas yang berorganisasi, membawa perubahan pada sebutan pimpinan yaitu : Koordinator Presidium, Anggota Presidium I, dan Anggota Presidium II. Pada tingkat Cabang dan Ranting. tetap terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua. Badan Pengurus menjadi Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah, Dewan Pengurus Cabang dan Dewan Pengurus Ranting. Perkembangan Cabang sampai dengan tahun 2001, Wanita Katolik RI DPD Jatim telah memiliki 36 (tiga puluh enam) Cabang.

 

  • Masa Bakti Tahun 2005 – 2010        :

Konferda XII (kedua belas) Tahun 2005, terpilih sebagai Koordinator Presidium Ibu Vc. Dwi Hartiningrum, anggota Presidium I Ibu P.M. Sudarnami Bambang Prabowo dan anggota Presidium II Ibu F.X. Sueztiningsih Budi Setiawan

Pada tahun 2005 DPD Jawa Timur berkembang menjadi 38 (tiga puluh delapan) Cabang, dengan catatan Cabang Randublatung sesuai ketentuan AD-ART dilikuidasi menjadi Ranting dari DPC Santo Willibordus Cepu. Tahun 2010, menjadi 39 (tiga puluh sembilan) Cabang, dengan tambahan DPC Roh Kudus yang merupakan pemekaran dari DPC Gembala Yang Baik Surabaya.

Dikeluarkannya UU RI No 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, mengandung konsekuensi bahwa Wanita Katolik RI harus menata kedudukan dan keterkaitan organisasi dengan yayasan yang secara hukum merupakan dua Badan Hukum. Untuk itu Kongres XVIII (kedelapan belas) Tahun 2008 menghasilkan Keputusan Nomor KEP VII/Kongres XVIII/2008 tentang Hubungan dan Keterkaitan Wanita Katolik RI dengan Yayasan Dharma Ibu.

 

  • Masa Bakti Tahun 2010 – 2015        :

Konferda XIII (ketiga belas) Tahun 2010, terpilih sebagai Koordinator Presidium Ibu P.M. Sudarnami Bambang Prabowo, anggota Presidium I Ibu F.X. Sueztiningsih Budi Setiawan dan anggota Presidium II Ibu Nany Hartono

Kongres XIX tahun 2013, pada Sidang Komisi AD-ART diputuskan ada perubahan pada sebutan Pimpinan Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengurus Daerah. Koordinator Presidium diganti menjadi Ketua Presidium.

Sampai dengan tahun 2015, jumlah cabang 39 (tiga puluh Sembilan) dengan catatan Cabang Ngrambe dilikuidasi menjadi Ranting dari DPC Santo Yosef Ngawi dan bertambahnya DPC Ratu Pecinta Damai pemekaran dari DPC Kristus Raja Surabaya.

Eksistensi yayasan sebagai Badan Hukum di satu pihak dan Wanita Katolik RI sebagai Badan Hukum di pihak lain, di mana ke-dua-nya harus tetap mampu menjalin kerja sama demi keberlanjutan karya-karya Wanita Katolik RI nampaknya belum terlaksana secara efektif dan optimal. Cukup banyak hal-hal teknis yang perlu ditata, lebih dari itu diperlukan kesepemahaman tentang kedudukan kedua pihak secara hukum dan kedudukan di dalam menjalankan tugas perutusan. Karenanya pada Kongres XIX tahun 2013 kembali diterbitkan Keputusan nomor : VII/ Kongres XIX/2013 tentang hubungan dan keterkaitan Wanita Katolik RI dengan Yayasan Dharma Ibu, dan dalam AD-ART 2013 tentang Yayasan tercantum pada Bab tersendiri.

 

  • Masa Bakti Tahun 2015 – 2020        :

Konferda XIV (keempat belas) Tahun 2015, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu Maria Ety Mariana, anggota Presidium I Ibu Maria Ruth Inge Herawati dan anggota Presidium II Ibu Agnes Windu Rintowati

Tahun 2015-2020 seiring dengan pemekaran Paroki, jumlah cabang dari 39 (tiga puluh sembilan) menjadi 43 (empat puluh tiga) cabang. Penambahannya adalah DPC Santo Stefanus Surabaya, DPC Santo Aloysius Gonzaga Surabaya, DPC Santo Hilarius Klepu pemekaran dari DPC Santa Maria Ponorogo dan DPC Santo Fransiskus Asisi Resapombo pemekaran dari DPC Santo Petrus dan Paulus Wlingi.

Kegiatan organisasi yang dilakukan meliputi kegiatan kedalam dan keluar. Kegiatan kedalam lebih diutamakan pada kaderisasi dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pembekalan pengurus dan anggota agar mampu memanfaatkan perkembangan Informasi Teknologi (IT), melaksanakan pendampingan ke DPC terutama dalam pelaksanaan Konfercab agar sesuai dengan ketentuan Pedoman Rapat Paripurna, mengupayakan Kartu Tanda Anggota (KTA) bagi anggota. Kegiatan keluar yaitu bermitra dengan anggota Komisi Kategorial, Organisasi–organisasi kemasyarakatan, Lembaga Pemerintah di tingkat daerah maupun di tingkat Provinsi.

 

  • Masa Bakti Tahun 2020 – 2025        :

Konferda XV (kelima belas) yang dilaksanakan pada tanggal 18-20 Desember 2020, terpilih sebagai Ketua Presidium Ibu Maria Ety Mariana, anggota Presidium I Ibu Maria Ruth Inge Herawati dan anggota Presidium II Ibu Laurensia Restu Widyastuti.

Wanita Katolik RI DPD Jawa Timur mengadakan kesepakatan bersama dengan Gubernur Provinsi Jawa Timur tentang Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Keluarga untuk Mendukung Pembangunan Daerah di Jawa Timur. Kesepakatan Bersama ini dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2021 dengan Nomor : 120.23/178/KSB/011.3/2021 dan Nomor : 09/DPD JATIM/III/2021. Kesepakatan Bersama ini dilaksanakan bersama-sama dengan 5 (lima) organisasi wanita yang lain yaitu BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita), IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Muslimat NU, Aisyiyah dan Fatayat NU.

Dan juga mengadakan perjanjian kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur tentang Pemberdayaan, Pencegahan dan Perlindungan Perempuan dan Anak, yang tertuang pada Perjanjian Kerja Sama Nomor 120.23/187/PKS/011.3/2021 dan Nomor : 09/DPD JATIM/III/2021 tanggal 11 Juni 2021.

 

       II. Kondisi Daerah

Pada tahun 2020 Wanita Katolik RI DPD Jawa Timur memiliki 39 (tiga puluh sembilan) cabang, dari yang semula 43 (empat puluh tiga) cabang. Hal ini disebabkan ada 3 (tiga) cabang yang tidak aktif sejak tahun 2015 yaitu DPC Regina Pacis Magetan, DPC Santo Vincentius A Paulo Kediri dan DPC Santo Willibrodus Cepu, dan 1 (satu) cabang lagi yang tidak aktif mulai tahun 2020 yaitu DPC Santo Yosef Kediri. 

 

        III. Penutup

Demikianlah Sejarah Singkat Wanita Katolik RI DPD Jawa Timur, ke depannya tentu akan menghadapi banyak tantangan, baik yang internal ataupun eksternal, namun juga memperoleh banyak peluang didalam menemukan dan mengembangkan bentuk-bentuk pengabdian dan pelayanan kita. Bantuan dan dukungan dari semua pihak baik dari kalangan gereja, pemerintah, maupun dari masyarakat umum atau kaum awam sangatlah dibutuhkan dalam perkembangan organisasi yang menjadi tanggung jawab semua anggota.

"